Congress of Indonesian Diaspora III (CID-3) Diaspora Bakti Bangsa

Akhirnya atas kerja sama dengan Bapak Tim Hoevenagel dari Garuda Orient Holidays dan dukungan dari Bapak Yayan, Konjen KJRI-Sydney, Diaspora Indonesia di Australia kembali lagi dapat berpartisipasi dalam acara kongres Diaspora Indonesia yang ketiga dengan tema “Diaspora Bakti Bangsa”. Suatu kebanggaan dan kenang-kenangan yang terulang kembali pada setiap dua tahun.
Bila pada kongres yang ke dua, dengan tema “Pulang Kampung”, pada tahun 2013 yang juga diadakan di Jakarta, Diaspora Indonesia di Australia hanya dapat bersemangat dan memberi wacana mengenai bagaimana Diaspora Indonesia, yang merupakan aset bangsa, dapat berpartisipasi bersama rakyat Indonesia untuk membangun masa depan Indonesia, maka pada kongres Diaspora Indonesia yang ke tiga, Diaspora Indonesia di seluruh penjuru dunia, termasuk Diaspora Indonesia di Australia melaporkan hasil nyata dari apa yang telah mereka perbuat bersama warga dan pemerintah Indonesia bagi Ibu Pertiwi sejak 2013, sesuai dengan arahan dari Bapak Dino Patti Djalal.

Semangat berbuat untuk membangun bangsa kita ini selalu membara didalam jiwa raga Diaspora indonesia dimanapun mereka berada dan tidak pernah padam walaupun berada¬†jauh dari pangkuan Ibu Pertiwi. Seperti yang di ekspresikan oleh Ismail Marzuki secara tepat dalam lagu Indonesia Pusaka: “Di sana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua. Tempat akhir menutup mata”.
Semangat membara Diaspora Indonesia ini akhirnya dapat disatukan pada kongres pertama pada tahun 2012 di Los Angeles yang di dibuka oleh Bapak SBY, mantan Presiden RI yang ke 6, di prakarsai oleh Bapak Dino Patti Djalal, mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat yang merupakan ajang bertujuan untuk menginspirasi masyarakat diaspora Indonesia untuk menghubungkan dan menyatukan diri menjadi satu komunitas besar dan menciptakan kekuatan yang nyata dalam rangka mencapai Indonesia yang lebih baik. Acara ini juga bertujuan untuk mendorong dan mengimplementasikan inisiatif nyata untuk memperdayakan masyarakat Indonesia di seluruh dunia.
Semangat Diaspora Indonesia yang dituangkan dalam konferensi Diaspora Indonesia yang ke dua (CID-2) pada tahun 2013, ternyata disambut dengan penuh kecurigaan oleh masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh seringnya masyarakat Indonesia kecewa dengan inisiatif-inisiatif baru yang jarang menjadi kenyataan, baik dari kalangan pemerintah maupun dari kalangan swasta, apa lagi dengan inisiatif yang datang dari luar negeri dan belum pernah terjadi di Indonesia.
Tetapi tidak demikian halnya pada konferensi Diaspora Indonesia yang ke tiga (CID-3) kali ini. Sejak tiba di bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, walaupun kali ini tidak ada jalur imigrasi khusus bagi Diaspora Indonesia, tetapi pelayanan dan sambutan yang ramah dan hangat kepada diaspora Indoneisa tidak saja oleh petugas-petugas imigrasi tetapi juga dari masyarakat Indonesia pada umumnya selama kami berada di Indonesia, sehingga memberi kehangatan yang sangat mendalam kepada Diaspora Indonesia yang datang dari manca negara.
Sambutan ramah tamah dan kehangatan yang diperlihatkan oleh masyarakat Indonesia, tidak saja disebabkan oleh kesadaran masyarakat di Indonesia, bahwa Diaspora adalah aset bangsa, seperti halnya dengan Diaspora-Diaspora dari China, India, Philiphina dan sebagainya untuk negara mereka masing-masing, tetapi juga karena kontribusi-kontribusi nyata yang telah di tunjukan oleh para Diaspora Indonesia diseluruh penjuru dunia, misalnya Liveable City yang di prakarsai oleh Task Force (Gugus Tugas) Diaspora Indonesia di Belanda, penelitian bersama (Joint Research) antar universitas Flinders di Australia dengan universitas UNAS, UNPAD, UI dan UIN di Indonesia dan Memajukan Maritim & Perikanan Sektor di Indonesia ( Making Indonesia’s Maritime & Fisheries Sector Thrive) yang di prakarsai oleh Task Force Diaspora Indonesia di Australia.